Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017
DAMPAK KENAIKAN FED FUNDS RATE

IHSG & Rupiah Solid

Hafiyyan, Lukas Hendra & Novita S. Simamora Jum'at, 17/03/2017 07:20 WIB

JAKARTA — Keputusan bank sentral AS me naikkan Federal Funds Rate 25 bps tak membuat pasar modal Indonesia bergejolak. Bahkan, kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia menembus Rp6.012 triliun.

Kerja keras pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan transmisi kebijakan moneter yang dilakukan Bank Indonesia dalam mengantisipasi faktor eksternal tampaknya cukup punya andil.

Tak heran, meski The Fed mengerek suku bunga, investor asing membukukan beli bersih hingga Rp1,84 triliun atau tertinggi sepanjang tahun ini pada perdagangan kemarin.

Kepala Divisi Komunikasi PT Bursa Efek Indonesia Yulianto Aji Sadono mengungkapkan pencapaian kapitalisasi bursa menunjukkan perdagangan efek semakin prospektif dan likuid.

“BEI berharap nilai kapitalisasi pasar dapat terus tumbuh, yang sejalan dengan peningkatan level IHSG sehingga dapat memberikan imbal hasil bagi para investor di pasar modal Indonesia,” tulisnya dalam keterangan resmi, Kamis (16/3).

Video Infografis: Dampak Penaikan Fed Fund Rate

Pada perdagangan Kamis (16/3), kinerja IHSG ditutup menguat 1,58% atau 85,86 poin menuju level 5.518,24 poin dari posisi 5.432,38 pada penutupan perdagangan kemarin.

Direktur Utama BEI Tito Sulistio mengatakan pelaku pasar telah memprediksi kenaikan Fed Funds Rate (FFR) dan optimistis terhadap kinerja perekonomian di Tanah Air.

“Ada jaminan yang sangat bagus sehingga investor asing betah di Indonesia, yaitu stabilitas ekonomi terjaga, tata kelola ekonomi membaik, dan kepercayaan pasar meningkat di tengah membaiknya hasil laporan keuangan emiten akhir tahun lalu,” katanya, Kamis (16/3).

KINERJA EMITEN

Menurut Tito, membaiknya laporan keuangan emiten pada 2016 sejalan dengan peningkatan produk domestik bruto. Hans Kwee, analis Investa Saran Mandiri, mengatakan kenaikan FFR sudah terdiskon sendiri oleh pasar sehingga pergerakan bursa tidak negatif. Selain itu, lanjutnya, penaikan FFR menunjukkan ekonomi AS lebih baik sehingga akan memberikan sentimen positif terhadap pergerakan harga komoditas.

“Tak hanya itu, dalam beberapa hari terakhir, banyak emiten mulai membagikan dividen sehingga memberikan trigger tambahan IHSG bergerak positif. Trigger tambahan juga datang dari proyeksi rating Indonesia oleh S&P yang diperkirakan diberikan pada Mei.”

Sementara itu, mata uang rupiah juga diperkirakan masih stabil di area Rp13.300-an sampai dengan akhir tahun meskipun Federal Reserve merencanakan penaikan suku bunga sebanyak tiga kali pada 2017.

Kemarin, rupiah menguat 17 poin atau 0,13% menjadi Rp13.347 per dolar AS setelah diperdagangkan pada kisaran Rp13.313 – Rp13.364 per dolar AS.

Kurs tengah dipatok Rp13.336 per dolar AS. Agus Chandra, Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, mengatakan mata uang rupiah menguat akibat pelemahan dolar AS menyusul hasil FOMC yang mengecewakan pasar.

Sebelumnya, pasar sempat memperkirakan bank sentral AS bakal menaikkan Fed Funds Rate sebanyak empat kali pada 2017. Namun, Federal Reserve nampaknya masih bersikap hati-hati atau cenderung dovish dan hanya akan mengerek suku bunga tiga kali.

Sementara dari faktor internal, penguatan rupiah ditopang keputusan BI yang sesuai ekspektasi pasar, yakni mempertahankan suku bunga 7 days repo rate (7-DRR) di level 4,75%.

Dalam jangka panjang, sambung Agus, intervensi BI dan perbaikan ekonomi domestik dapat menjaga penguatan rupiah.

Dirut PT Bank Mayapada International Tbk. Haryono Tjahjarijadi mengatakan kenaikan FFR sudah diperkirakan pasar sejak lama dan regulator pun sudah menyiapkan antisipasi sehingga pasar keuangan tetap stabil. (Surya Rianto/Hadijah Alaydrus/Dewi A. Zuhriyah/Yustinus Andri)

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More