Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017
PERPETUAL BOND

Solusi Anyar Pendanaan

Yodie Hardiyan & Maftuh Ihsan Jum'at, 17/03/2017 07:59 WIB
Ilustrasi

Potensi kenaikan debt-to-equity ratio BUMN konstruksi menjadi kendala untuk mencari pendanaan pembangunan infrastruktur di Tanah Air. Perpetual bond pun menjadi salah satu solusinya.

Nama perpetual bond masih asing di Indonesia. Opsi pendanaan ini merupakan ‘peralihan’ dari produk obligasi dan ekuitas. Namun, di pasar global produk ini digandrungi banyak perusahaan karena sifatnya yang ‘fleksibel dan bersahabat’ terhadap neraca keuangan.

“Di pasar internasional, nilai penerbitan perpertual bond melonjak signifikan pada 2015-2016. Di Indonesia, produk ini pernah dipakai oleh AirAsia untuk mengatasi masalah keuangannya,” tutur Amir Dalimunthe, analis obligasi PT Danareksa Sekuritas.

Amir menjelaskan produk investasi ini tidak memiliki periode jatuh tempo, tetapi investor akan mendapatkan pembayaran kupon secara berkala sesuai kesepakatan dengan penerbit.

Penerbit perpertual bond dapat menyematkan opsi pembelian kembali apabila suku bunga meningkat yang dapat meningkatkan beban pembayaran kupon. Fitur lainnya adalah investor mendapatkan penyesuaian besaran kupon mengikuti perkembangan suku bunga.

“Ini bisa menjadi opsi menarik bagi perusahaan konstruksi yang rasio utangnya tinggi tetapi butuh pendanaan besar. Bagi investor, ini seperti menerima dividen dari saham, tetapi yang diterima adalah bunga obligasi selama mereka tetap memiliki obligasi itu,” paparnya.

Korporasi konstruksi dan investasi milik negara, PT PP (Persero) Tbk., bisa menjadi emiten pertama di Indonesia yang menerbitkan perpetual bond. Namun, emiten berkode saham PTPP ini masih menunggu izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelum menerbitkan instrumen utang tersebut.

Direktur Keuangan PTPP Agus Purbianto mengatakan nilai perpetual bond yang akan diterbitkan perseroan mencapai Rp1 triliun hingga Rp2 triliun dan akan dieksekusi pada tahun ini.

“Instrumen utang ini belum lazim di Indonesia dan masih dikaji oleh regulator. Sekarang kami bicara intensif dengan OJK,” katanya seusai RUPS Tahunan, Kamis (16/3).

TINGKAT KUPON

Selain itu, PTPP sedang berkoordinasi dengan sejumlah perusahaan sekuritas terkait penyusunan instrumen itu. Sejauh ini, tingkat kupon yang bakal ditetapkan dalam perpetual bond itu sekitar 9,5%.

“Karena ada risiko lebih besar, biasanya kupon perpetual bond lebih tinggi dibandingkan obligasi biasa,” jelas Amir.

Terkait mekanisme penerbitan, Agus mengatakan investor akan membeli perpetual bond melalui instrumen reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) atau bentuk reksa dana lain.

“Nanti RDPT itu yang akan membeli bond itu,” katanya.

Menurutnya, instrumen perpetual bond yang belum lazim itu dipilih untuk merelaksasi neraca keuangan perseroan. Agus mengatakan dana yang diperoleh itu nantinya tidak dicatat dalam liabilitas, melainkan ekuitas.

Dana hasil pendanaan itu akan digunakan oleh emiten ini untuk berbagai rencana investasi, salah satunya untuk akuisisi perusahaan. Pada 2017, PTPP melalui anak usahanya, PT PP Peralatan, berencana untuk mengakuisisi tiga perusahaan.

Direktur Utama PTPP Tumiyana mengatakan tiga perusahaan itu akan selesai diakuisisi pada Maret dan April 2017. “Dua perusahaan akan selesai diakuisisi Maret ini, dan satu perusahaan selesai April,” katanya.

Tumiyana belum bersedia mengungkapkan identitas perusahaan itu dan dana yang disiapkan untuk melakukan akuisisi. Menurutnya, perusahaan akan mengumumkan aksi korporasi itu pada akhir Maret ini.

Rencana akuisisi itu dilakukan sekaligus untuk mempersiapkan PP Peralatan sebelum melakukan initial public offering (IPO) pada kuartal III/2017. Seperti diketahui, PTPP berencana melakukan IPO tiga anak usahanya, termasuk PT PP Pracetak dan PT PP Energi.

Sebagai gambaran, PTPP menargetkan kontrak senilai Rp40,62 triliun sepanjang tahun dimana telah tercapai 12,5% atau Rp5,1 triliun sampai pertengahan Maret 2017. Sejumlah kontrak yang diperoleh perusahaan antara lain dari proyek infrastruktur seperti jalan tol.

Dari kontrak baru itu, perusahaan menargetkan pendapatan usaha Rp28,6 triliun pada 2017, atau meningkat dibandingkan dengan Rp16,46 triliun pada 2016. Dari pendapatan itu, perusahaan mengincar laba bersih Rp1,71 triliun pada 2017.

Pada 2016, perusahaan membukukan laba bersih Rp1,02 triliun. Dalam RUPS Tahunan kemarin diputuskan bahwa perusahaan membagi dividen sebesar 30% dari laba bersih itu sekitar Rp307 miliar atau setara Rp49,52 per saham kepada pemegang saham.

 

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More