Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017
DIVIDEN BANK BUMN

Setoran Melambung

Farodlilah Muqoddam Sabtu, 18/03/2017 06:55 WIB
ilustrasi

JAKARTA — Rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) bank-bank pelat merah mencatat rekor tertinggi selama 5 tahun terakhir, dengan besaran antara 20%—45%.

Dari sisi volume, total dividen yang disetorkan bank BUMN kepada pemegang saham mencapai Rp21,15 triliun, atau tumbuh 29,4% jika dibandingkan dengan tahun lalu Rp16,34 triliun.

Eric Sugandi, Chief Economist SKHA Institute for Global Competitiveness, menilai kenaikan setoran dividen itu tidak akan serta-merta memengaruhi kemampuan ekspansi bank, kendati berada ditengah lilitan rasio kredit berma salah yang meningkat pada tahun lalu.

Pada tahun ini, lanjutnya, bank-bank pelat merah cenderung fokus pada penyelesaian tanggungan aset kredit bermasalah. Bank juga akan berhati-hati dalam menyalurkan kredit baru.

“Ditambah lagi demand terhadap kredit juga masih tumbuh lambat sehingga bank memang tidak berencana untuk ekspansi secara agresif,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (17/3).

Ekonom Universitas Indonesia Ari Kuncoro menilai secara fundamental kapasitas per bankan BUMN masih cukup baik meskipun besaran laba ditahan menjadi berkurang akibat porsi pembayaran dividen yang lebih tinggi.

Dari sisi permodalan, bank-bank pelat me rah ini masih sangat memadai untuk men dukung ekspansi bisnis. Di sisi lain, tren kenaikan rasio pembayaran dividen bank BUMN pada tahun ini juga dilakukan untuk memastikan pemegang saham menerima nilai tambah investasi (return on investment/ROI) yang menarik.

“Terutama di Bank Mandiri, ketika laba menurun, mereka tetap ingin memberikan ROI yang kompetitif untuk pemegang saham,” ujarnya.

Pada tahun ini, emiten perbankan berkode saham BMRI itu membagikan dividen senilai Rp6,2 triliun, atau mencapai 45% dari total perolehan laba bersih pada 2016.

Kuncoro memperkirakan pemerintah bakal mengandalkan penerimaan dividen dari perusahaan pelat merah, termasuk perbankan, untuk mengompensasi target penerimaan pajak yang tidak tercapai.

Dividen dari bank-bank pelat merah yang diterima oleh pemerintah pada tahun ini tercatat menjadi Rp12,32 triliun, naik 22,56% dibandingkan dengan total penerimaan dividen bank BUMN pada 2016 yang mencapai Rp9,54 triliun.

Sebelumnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. membagikan dividen sebanyak 40% dari total laba bersih pada 2016 menjadi senilai Rp10,47 triliun atau Rp428 per saham.

Tingkat persentase pem bagian dividen itu menjadi yang tertinggi sejak 2008. Adapun, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. menyetorkan dividen sebesar 35% atau setara Rp3,96 triliun dari laba bersih kepada pemegang saham.

 

BTN TERENDAH

Dari seluruh bank pelat merah, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BTN) menetapkan rasio pembayaran dividen paling rendah, yakni 20% dari total laba.

Dengan demikian, perolehan dividen pemerintah yang menguasai 60% saham BTN pada tahun ini adalah senilai Rp313 miliar.

Direktur Utama BTN Maryono mengatakan rasio pembayaran dividen yang lebih rendah dibandingkan dengan bank-bank lainnya merupakan bentuk dukungan pemerintah untuk meningkatkan kinerja BTN dalam pembiayaan perumahan.

Direktur BTN Iman Nugroho Soeko menambahkan keputusan rapat umum pemegang saham akan besaran rasio pembayaran dividen sebesar 20% tersebut memperhitungkan faktor bahwa perseroan membutuhkan dukungan tambahan modal guna membiayai eks pansi kredit yang pada tahun ini dipatok di kisaran 21%-23% secara year on year.

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More