Navigasi Bisnis Terpercaya

Kamis 30 Maret 2017

Sibuk Kerja Apa Lupa Bahagia

Hendrik Lim Sabtu, 18/03/2017 08:00 WIB
Hendrik Lim

Ivan M. Lester adalah skydiver kawakan. Ia piawai mengabadikan momen kegembiraan orang lain saat terjun dari ketinggian. Ada berbagai mimik emosi yang ia capture, yang akan menjadi memori yang tidak terlupakan bagi yang ikut terbang dan terjun. Betapa tidak, ia seorang videographer yang senang akan pekerjaannya.

Kala itu, dua dekade lalu, suatu sore Ivan melakukan rutinitas yang sama. Semua peralatan dipersiapkan dan dibawa. Tentu saja kondisi saat dua puluh tahun lampau teknologi ukuran mini belum dikenal. Jadi, ia mau tidak mau harus disibukkan dengan membawa peralatan yang cukup ribet: kamera videa ukuran besar, pita rekaman  saat itu pun masih sebesar mie instant.

Lampu sorot kepala, dan berbagai peralatan audio dan tekniks lainnya. Suatu ritual yang telah sering ia lakukan. Terbanglah ia dengan beberapa pelanggan yang akan ikut terjun untuk diabadikan momen indah saat melayang dan mengangkasa di udara. Lalu terjun lah mereka dengan campur aduk perasaan riang, serta  tegang dan cemas bagi penerjun perdana lainnnya. Capture saat-saat penuh arti pun berlangsung. Kemudian satu per satu peserta lain menarik tali parasut, untuk melayang. Dan Ivan pun menarik tali parasutnya.

Namun apa yang terjadi? Tidak disangka, setelah mencoba menarik tali berkali-kali, Ivan tidak berhasil.

Ternyata ia lupa membawa satu hal yang paling penting dalam kegiatan terjun skydiving. Ia tidak membawa parasut. Akibatnya Ivan Lester jatuh terhempas mengenaskan. Nyawa tidak tertolong. Very sad. Itulah faktanya.

Boleh jadi, Ivan disibukkan oleh berbagai ritual kesibukan, yakni  kamera, recorder, dan berbagai beban instrumen lainnya, sampai ia lupa pada hal yang paling esensial bagi seorang skydiver: Parasut! Berbagai hal-hal teknis dan tetek bengek yang menyita perhatian itu, membuat ia luput untuk fokus pada hal-hal utama: first thing first pun terlewat, dan akibatnya fatal.

Begitu juga dalam kehidupan kerja (corporate life). Amat sering corporate citizens disibukkan dengan begitu banyak hal, dari satu meeting bergerak ke meeting yang lain, dari satu appointment, berlari mengejar appointment yang lain. Dari satu target goal, memburu ke target goal yang lain. Berbagai kesibukan itu membuat orang pontang-panting. Pergi dini hari, pulang larut malam, dan hari pun berganti. Sampai sampai lupa untuk menikmati proses: kebahagiaan kerja (happy work).

Kerja sebatas dalam ikatan transaksional. Sebuah kewajiban formal belaka. Tidak terlibat sepenuh hati dan pikiran dalam pekerjaan alias tidak all out.  Kalau seseorang tidak terlibat penuh (engaged) dalam apa yang ia kerjakan. Apa pun bidang pekerjaannya, rasanya sulit untuk menikmati pekerjaan. Lalu bagaimana mendesain happy work? Untuk menciptakan happy work, manajemen perlu memeriksa pemicu dan motif di balik sebuah kinerja dan senyum di balik kerja.

DRIVER PERFORMANCE
Driver dan motivasi kerja telah berubah. Kalau dahulu orang kerja lebih banyak di-drive oleh reward tangibles, seperti paket gaji-bonus dan renumerasi lainnya. Kini driver tersebut telah bergesar. Menurut temuan Dr. D. Pink dalam What Surprisingly Motivate Us, kini orang bekerja lebih digerakkan oleh pencarian makna. Mereka ingin mendapatkan rasa berarti (fulfilled), terlebih lagi bagi para knowledge workers dan kaum milenial.

Pada dekade lalu, driver mencari makna dan kebahagian kerja itu pada umumnya mulai dicari oleh mereka yang telah berusia 40 tahun ke atas. Namun, kini kaum urban muda pun telah mencari hal yang sama pada periode usia yang lebih dini. Mereka tidak puas kalau sekadar mendapatkan reward tangible. Mereka ingin sesuatu yang lebih yang tidak bisa ditakar dengan kasat mata. Sesuatu yang mendatangkan senyum kepuasan. Tentu saja tangibles reward- paket renumerasi masih sangat penting. Tidak ada yang menyangkalnya. Instrumen tersebut lebih bersifat sebagai entry tickets. Artinya kalau di bawah stardar yang berlaku, maka perseroan akan sulit mendapatkan banyak talenta yang baik. Rukrutmen akan menjadi masalah.

Selain itu, tangibles reward tentu saja masih merupakan tool yang efektif dalam mendorong kinerja, terutama untuk pekerjaan yang bersifat fisik-mekanik rutinitas (blue colars).

Kalau manajemen tidak paham perubahan driver kinerja ini, ia akan sulit merancang kebahagian dan kepuasan kerja bagi corporate citizens. Indikasinya adalah turn over rate pekerja (talented & skillful) yang tinggi, atau tingkat engagement yang rendah.

Apa yang membuat hal itu terjadi? Itu tadi, ada sesuatu yang kosong, istilahnya something missing. Mengapa hal seperti itu bisa terjadi? Salah satunya akibat tuntutan pekerjaan yang makin tinggi dan mendesak, ditambah persaingan yang kian hari, kian sengit. Dalam situasi seperti ini, manajemen sering sekali disibukkan dengan berbagai distraksi tersebut. Akibatnya, ia lupa, gagal menangkap berbagai perubahan pada hal-hal primer yang telah  terjadi. Di antaranya, bahwa driver dan motivasi performace telah berubah.

Pada saat yang sama ia masih tetap menggunakan senjata dan respons gaya lama, ketika medan tempur telah berubah. Ia bak Ivan Lester yang terlalu  sibuk dengan tuntutan operasional, lupa pada hal-hal fundamental. Akibatnya gerak perseroan harus terhempas tragis. Senyum kebahagian kerja itu muncul, kalau orang tahu apa peran  dan kontribusi yang ia mainkan dalam mewujudkan keberhasilan kolektif organisasi.

Coporate citizen itu akan tersenyum puas, kalau ia melihat kembali apa yang telah dikerjakan, merasa seolah tidak percaya kalau mereka ternyata bisa dan telah melakukannya!  Mereka akan geleng-geleng kepala sambil senyum lepas. Di situlah ia akan merasa berarti dan fulfilled. Halhal seperti itu perlu didesain. Pada masa kini, di mana human resources yang hebat adalah human capital, mendesain kebahagian kerja termasuk hal primer dan esensial. Jangan sampai karena sibuk dengan tetek-bengek operasional, hal-hal primer terlupakan. Tragedi Ivan Lester mengajarkan: harga yang harus dibayar terlalu mahal, kalau kita melupakan first thing first.

More From Makro Ekonomi

  • Ambisi Tito Lampaui Aset Perbankan

    13:34 WIB

    "Hidup itu harus ada target. Setelah tembus Rp6.000 triliun, kami harap market cap bisa melampaui aset perbankan," ucap Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio, Kamis (23/3).

  • PPRO Garap Kertajati

    13:28 WIB

    PT PP Properti Tbk. melalui kerja sama dengan PT BIJB Aerocity Development akan mengembangkan kawasan bisnis seluas 300 hektare di kawasan Bandar Udara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat

  • Bisnis Indonesia Edisi Cetak Senin, 27 Maret 2017 Seksi Market

    01:48 WIB

    Berikut ini adalah ringkasan headlines BISNIS INDONESIA edisi cetak Senin, 27 Maret 2017. Untuk menyimak lebih lanjut, silahkan kunjungi http://epaper.bisnis.com/

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

News Feed

  • Gubernur BI Siap Bersaksi

    Rabu, 29 Maret 2017 - 16:42 WIB

    Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardoo dijadwalkan hadir dalam persidangan kasus korupsi pengadaan KTP elektronik, Kamis (30/3), dalam kapasitasnya sebagai saksi terhadap terdakwa Irman dan Sugoharto, mantan pejabat Kementerian Dalam Negeri.

  • Asia Paper Diberi Tenggat 45 Hari

    Rabu, 29 Maret 2017 - 14:05 WIB

    Masa penundaan kewajiban pembayaran utang PT Asia Paper Mills akhirnya disepakati selama 45 hari, jauh dari harapan perseroan selaku debitur, yang mengajukan perpanjangan waktu 180 hari.

  • RI Bersiap Hadapi AS

    Rabu, 29 Maret 2017 - 12:11 WIB

    Indonesia bersiap menghadapi tudingan dumping dan subsidi dari Amerika Serikat atas produk biodiesel Tanah Air, setelah sebelumnya Uni Eropa menyampaikan tuduhan serupa

  • “Koperasi Bisa Menjadi Kekuatan Dahsyat”

    Rabu, 29 Maret 2017 - 11:52 WIB

    Pemerintah sejak awal sepakat menjadikan koperasi dan usaha kecil menengah (UKM) sebagai salah satu tulang punggung pertumbuhan ekonomi, dan berupaya terus menumbuhkan pelaku usahanya dengan berbagai kebijakan. Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, Menteri Koperasi dan UKM menjelaskan upaya yang selama ini dilakukan pemerintah untuk koperasi dan UKM. Berikut ini petikan wawancaranya.

  • KKP Bidik Pemilik Kapal Jumbo

    Rabu, 29 Maret 2017 - 10:02 WIB

    Kementerian Kelautan dan Perikanan membidik perusahaan-perusahaan yang menjadi pemilik 16.000 kapal perikanan di atas 30 gros ton lulus sertifikasi hak asasi manusia sebagai parameter penilaian perpanjangan izin usaha.

Load More