Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017

Kisah Dubber yang Tak terdengar

Redaksi Sabtu, 18/03/2017 07:47 WIB
Dubber

Maret adalah bulan istimewa bagi insan dan pecinta perfilman Indonesia. Sebab, pemerintah telah menetapkan bulan ketiga ini sebagai bulan film nasional. Tidak heran,
setiap Maret banyak sekali dihelat acara terkait perfilman. Namun, di balik gebyar perayaan itu, mencuat profesi yang turut menjadi penentu keberhasilan industri film nasional yang kerap dipandang dengan sebelah mata.

Profesi itu adalah dubber atau penyulih suara. Di jagat perfilman Indonesia, dunia sulih suara baru populer pada periode 1980–1990-an, ketika film serial yang ditujukan untuk konsumsi televisi mulai ditayangkan di stasiun lokal. Salah satu film yang tayang di layar kaca dan menjadi tonggak dunia sulih suara di Indonesia adalah Escrava Issaura.  Telenovela asal Brasil itu untuk pertama kalinya disulihsuarakan oleh beberapa warga Indonesia yang tinggal di Malaysia, dan ditayangkan oleh stasiun TVRI pada medio  1980-an.

Setelah itu, mulai menjamur film layar lebar produksi Indonesia yang dialognya melalui proses sulih suara di studio. Film kolosal Saur Sepuh sempat melejitkan nama penyulih  suara Ferry Fadli, dan Erry Ermawati. Ditilik dari konsep, sulih suara merupakan bagian dari proses pascaproduksi film. Dubbing diperlukan untuk menambah audio atau ragam
suara yang dibutuhkan seperti tuntutan skenario. Dalam tahap ini, aktor akan merekam suara mereka sendiri, dan dimasukkan ke dalam video. Jadi, konsep sulih suara tidak selalu berarti menggantikan suara asli aktor dalam tayangan film ke bahasa setempat.

Sayangnya, meski dubbing menjadi bagian penting dalam proses produksi film, ternyata profesi penyulih suara tidak banyak mendapat sorotan. Pekerjaan itu masih dipandang  kurang prestisius. Padahal, tanpa profesi dubber, sebuah film —khususnya animasi atau film  terjemahan— menjadi tidak berjiwa. Salah satu upaya untuk kembali
mempopularkan profesi dan juga film adalah melibatkan para selebritas sebagai penyulih suara. Upaya jitu ini dilakukan oleh tim produksi Si Juki The Movie. Tim produksi film
animasi buatan anak bangsa itu bahkan merencanakan melibatkan 15 figur publik sebagai pengisi suara, a.l. Bunga Citra Lestari, Indro ‘Warkop’, Tio Pakusadewo, Butet Kartaredjasa, Agus Kuncoro, Nikita Mirzani, Jaja Miharja, Tarzan, Arie Kriting, dan Mongol Stres.

Salah satu selebritas yang langganan sebagai pengisi suara adalah vokalis band Nidji Giring Ganesha. Selama delapan tahun ini, dia menjadi pengisi suara tokoh utama Singa
Paddle Pop di lima seri film Petualangan Singa Pemberani. Hal yang sama dilaukan oleh vokalis band The Changcuters M. Tria Ramadhani. Belum lama ini dia menyulih suara
tokoh utama Amert Mude, dalam film animasi karya RUS Animation Studio, Pasoa & Sang Pemberani.

Dalam film animasi berdurasi 25 menit itu, Tria mengaku bangga berkesempatan untuk terlibat dalam garapan para siswa SMK Raden Umar Said Kudus itu.

PENGAKUAN PROFESI
Senada, aktor dan mantan VJ MTV Alex Abbad mengakui, tidak mudah bagi seseorang untuk menyulih suara. Dia menyayangkan pandangan publik yang belum terlalu menghargai profesi itu. “Padahal daya saing mereka tidak jauh dari yang kita lakukan. Mereka itu harus bisa menguasai adegan, situasi, karakter suara dan kadangkadang
satu orang bisa menjadi beberapa suara . Sayangnya mereka masih underrated.”

Alex menjelaskan selama proses sulih suara untuk satu film dia dapat berada di dalam studio selama tiga hari berturut-turut. “Bisa 12 jam di dalam ruangan. Beda dengan  shooting, yang enak bisa ketemu orang lain, pindah lokasi. Secara mental ini sangat berat,” katanya.  Tekanan yang tidak ringan dari profesi sulih suara diakui oleh voice talent profesional Mirna Haryati. Menekuni profesi sebagai dubber profesional sejak 2004 membuatnya memahami bahwa profesinya masih belum dapat maksimal selama film animasi di dalam negeri belum melejit.

“Dubbing Indonesia bisa maju kalau industri animasi Indonesia juga maju. Jadi kita harusnya bisa jalan beriringan dengan animasinya. Dari sana pemerintah dapat
mempromosikan keluar negeri. SDM kita bagus-bagus kok. Cuma ya itu, kurang promosi,” ujarnya.  Dari sisi organisasi Mirna Maret adalah bulan istimewa bagi insan dan pecinta
perfilman Indonesia. Sebab, pemerintah telah menetapkan bulan ketiga ini sebagai bulan film nasional.

Tidak heran, setiap Maret banyak sekali  dihelat acara terkait perfilman. mengungkapkan bahwa di Jepang, agensi untuk para pengisi suara sangat kuat sehingga pekerjaannya dapat terorganisasikan dengan baik. Sementara itu, di Tanah Air untuk asosiasi sulih suara sudah tidak lagi aktif, sehingga tidak mengherankan jika dubber di  luar negeri lebih maju. Selama 13 tahun menekuni dunia sulih suara membuat Mira banyak mengisi suara film animasi a.l. Naruto, Minion, Despicable Me 1, Toy Story, Yokai Watch, Transformer Robot in Disguise dan Kiki Delivery Service. Menurutnya, dunia dubber tidak terbatas pada film animasi tetapi juga dibutuhkan di berbagai industri, seperti game, iklan, radio, dan lainnya. Perkembangan di setiap industri ini membuka kesempatan bagi penyulih suara di Tanah Air untuk mengasah kemampuan menjadi profesional dubber.

Tidak hanya asosiasi sulih suara yang vakum, di Indonesia, komunitas sulih suara juga tidak banyak berkembang. Hanya ada beberapa yang berdiri di kota-kota besar. Salah satu yang paling terkenal di Tanah Air adalah komunitas Dubbing and Friends (D&F) yang berbasis di Jakarta. Sayangnya, beberapa waktu terakhir, komunitas ini pun sudah mulai  jarang menggelar kegiatan. Berbagai alasan dan kendala menjadi pemicunya, salah satunya adalah masalah regenerasi di kalangan penyulih suara. Sekjen D&F Gita Buana  Murti menuturkan basis kegiatan hanya di Jakarta, tetapi keanggotaan yang mencapai lebih dari 5.000 orang tersebar di seluruh Tanah Air.

Namun, dari ribuan anggota yang  tercatat itu, hanya beberapa orang saja yang aktif sebagai pengurus. Komunitas yang didirikan pada 2011 membuka kesempatan para penggemar sulih suara untuk menjadi dubber profesional. “Seringkali kami mengadakan workshop sulih suara dan menghadirkan tokoh-tokoh penyulih suara terkenal seperti Denis Setiano atau Agus Nurhasan. Terkadang, kami juga mengadakan gathering dengan mengundang para penyulih suara kawakan. Sehingga, di sana mereka bisa berbagi ilmu dan memberi manfaat bagi para peserta,” ujarnya.

Gita mengatakan komunitas ini bermanfaat untuk regenerasi dubber muda. Dia mengungkapkan tantangan besar yang dihadapi para dubber adalah belum diakuinya profesi ini di Indonesia. “Posisi dubber di Indonesia kebanyakan adalah tenaga kerja lepas . Karena freelance itulah, risiko pekerjaan kami sangat besar. Penghasilan sangat tergantung dari order, jam kerja sangat tidak pasti, dan tunjangan tidak diproteksi. Dalam sehari, seorang dubber bisa bekerja dan berpindah-pindah ke dua hingga lima studio berturut-turut.”

Dia menambahkan kompensasi yangdidapatkan dari profesi ini dihitung per episode  dan tergantung dari tokoh yang diperankan; apakah utama atau sampingan. Kisaran tarif
per studio berbeda-beda. Ada yang satu episode berdurasi setengah jam dibanderol Rp100.000, ada yang Rp70.000, ada yang Rp150.000. Belum maksimalnya pengakuan terhadap profesi ini ternyata diamini oleh Manajer Operasional PT Shefai Indonesia Harti Widyawaty Hartono. Studio alih suara yang menaunginya telah mengerjakan sulih suara
sejumlah drama telenovela dari beberapa negara mulai dari India, Korea, hingga Turki.

Menurutnya, bisnis ini terbilang kecil, tetapi jika banyak mengerjakan proyek akan menjadi besar. “Harusnya publik melihat bahwa dubbing menjadi bagian dari industri film. Dengan demikian, publik tidak memandang sebelah mata profesi maupun bisnis dubbing ini. Apalagi jika ada perhatian dari pemerintah maka akan lebih baik lagi.” Belum diakuinya profesi dubber ternyata tidak lepas dari peran pemerintah yang masih minim dalam mempromosikan profesi ini.

Saat ini, perhatian pemerintah masih fokus pada pengembangan film nasional. Hal itu disampaikan oleh Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf. “Soal pengembangan profesi sulih suara, kami belum ke arah sana. Sebab kalau sulih suara berkaitan dengan film impor bukan film nasional. Artinya mereka para dubber menyulihsuarakan film-film asing, sedangkan tugas kami adalah menguatkan industri film nasional. Sementara ini kami fokus untuk mengembangkan industri film nasional terlebih dahulu. Kami akan memprioritaskan pengembangan film nasional dengan mengupayakan segala fasilitasnya,” katanya.

Triawan mengatakan Bekraf tengah menggarap beberapa program untuk penguatan industri film nasional, seperti mengeluarkan peraturan untuk melindungi hak karya intelektual di industri film, membuka akses investasi dan permodalan, serta membuka akses lebih lebar terhadap para penonton. “Bukannya kami tidak menggarap sulih suara tetapi belum. Bila industri film nasional sudah mapan, tak menutup kemungkinan kami akan mengembangkan sulih suara juga

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More