Navigasi Bisnis Terpercaya

Jum'at 24 Maret 2017
PRESIDEN DIREKTUR PT TRANSPORTASI JAKARTA BUDI KALIWONO

“Kami Sudah Berubah”

Tim Bisnis Indonesia Senin, 20/03/2017 08:53 WIB
Direktur Utama PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) Budi Kaliwono di Jakarta, Rabu (15/3)/JIBI/Bisnis

JAKARTASejak pertama kali mengaspal, Transjakarta telah menjadi salah satu ikon Pemprov DKI Jakarta. Moda transportasi yang dirancang untuk mengangkut banyak orang agar berpindah ke transportasi massal ini telah menjelma menjadi salah satu alternatif bepergian yang aman, nyaman, dan murah. Apa saja perubahan Transjakarta? Bagaimana rencana peningkatan layanan Transjakarta ke depan? Bisnis Indonesia berkesempatan mewawancarai Direktur Utama PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) Budi Kaliwono.Berikut petikannya:

 

Bagaimana awal Anda ditunjuk menjadi pimpinan di Transjakarta?

Banyak orang beranggapan saya ini keluarga atau teman Pak Ahok (Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI). Itu tidak benar. Saya pasti kenal Pak Ahok karena beliau gubernur, tapi Pak Ahok tidak kenal saya. Saya seorang profesional. Ada yang mempertemukan saya dengan Pak Ahok untuk bertukar pikiran soal lalu lintas mobil dari Bandung ke Jakarta. Saya kemudian ditawari apakah berminat bergabung di BUMD?

Pada saat itu enggak mengerti juga. Pertemua pertama itu bukan hanya Pak Ahok yang banyak bertanya kepada saya. Saya malah banyak bertanya ke beliau. Yang menarik adalah ada jaminan buat profesional karena saya orang swasta yang 30 tahun berkarir. Kemudian saya masuk ke BUMD dengan birokrasi yang sulit, culture kerja yang berbeda, tentu melelahkan. Pak Ahok menjamin dia akan dukung kuat.

 

Selain dukungan Gubernur DKI, adakah hal lain?

Saya tertarik karena ada unsur pelayanan. Saat itu, Transjakarta mengangkut 275.000 orang per hari. saya mau menjadi CEO karena mau melayani 275.000 orang per hari.

Pak Ahok katakan gak usah mikirin duit karena ada dana besar. Kedua, tidak usah memikirkan pelanggan karena policy-nya akan dibuat agar semua orang naik Transjakarta. Ketiga, enggak usah mikir yang lain kecuali kerja saja. Tiga hal ini yg membuat saya sangat tertarik karena ujung-ujungnya pelayanan.

Kemudian Transjakarta terus berubah. Kami pasang tagline ‘Berani Berubah’ buat menunjukkan kami memiliki spirit yang sama di seluruh tim sehingga dalam setahun itu kami bisa menaikkan dari 275.000 orang menjadi 470.000 orang secara top-to-top per hari.

 

Apa target yang diinginkan Pemprov DKI?

Saya kan pengalaman 20 tahun di Astra bagian otomotif, kemudian ikut perusahaan Pak Chairul Tanjung bidang otomotif juga tapi di multifinance. Kemudian, saya coba usaha sendiri 3 tahun di otomotif juga. Selanjutnya, bergabung dengan Cipaganti 3—5 bulan.

Saat pertemuan dengan Pak Ahok, beliau bertanya terkait pola operasi layanan yang baik. Pak Ahok katakan harus sampai 1 juta orang per hari. tidak dikasih tahu berapa lama tapi target minimal harus segitu.

Angka itu saya pegang, karena harus bisa. Pesan yang sangat jelas ialah membantu orang susah. Artinya, saya mendapat suatu kesempatan mengelola dana besar dari Pemprov DKI untuk membantu masyarakat mendapatkan transportasi murah. Pada tahun ini dana Pemprov DKI Rp2,8 triliun. Pada tahun lalu kami diberikan Rp1,281 triliun tapi kami hanya gunakan Rp900 miliar.

Kami bekerja seperti swasta yang melakukan banyak efisiensi. Kami juga mengubah pola anggaran yang harus digunakan tetapi bukan semata-mata harus dihabiskan karena selalu melihat dari sisi efisiensi.

 

Dengan alokasi tersebut, bagaimana rencana untuk mengejar target itu?

Tahun lalu kami mencapai 125 juta orang setahun. Pada tahun ini targetnya 180 juta penumpang atau 50% naik dalam setahun. Caranya, jumlah bus kami tambah. Pada tahun lalu bus kami yang beroperasi 1.300 unit, sekitar 200 unit keluar masuk. Pada tahun ini kita kejar 3.000 bus. Pengadaan bus pada 2017 ini luar biasa.

Kedua, konsep Pemprov hendak merevitalisasi angkutan yang ada di Jakarta. Tugas Transjakarta adalah merangkul pelaku bisnis di bidang ini. Dana ini kita pakai untuk merangkul mereka, mengembangkan bisnis, memperbaiki sarana dan prasarana.

 

Apa yang Anda temukan untuk segera diperbaiki?

Perusahaan ini berdiri pada 2004 dan sampai dengan 2014 Transjakarta itu di bawah Pemprov DKI dan bentuknya masih UPT di bawah Dishub DKI.

Pada 2013, ada kasus bus China, kemudian pada 2015 PT Transportasi Jakarta berdiri. Saat menjadi PT, problemnya ialah organisasi ini sedang sakit. UPT menjadi PT ini berbeda. Pendekatannya juga harus berbeda, bukan masalah oprasional lagi tapi masalah pelayanan untuk serviceyang lebih baik. Itu pertama.

Ketika saya bergabung, orientasi di lapangan itu bukan pelanggan tapi operasional. Setiap hari bicaranya jumlah bus yang beroperasi berapa. Ini kami ganti. Setiap hari kami bicara berapa pelanggan yang bisa kami layanani? Jadi pukul 02.00 muncul jumlah pelanggan, pukul 05.00 kami diskusikan mengapa ini naik dan lainnya.

Kedua, dampak kejadian pada 2013 itu begitu dalam. Orang menjadi takut salah. Ketiga, saya merasa pendekatan UPT ke PT berbeda maka dibutuhkan leadership yang jelas, konsistensi ini harus terus berlaku. Kami tahu kalau culture ini tidak konsisten akan kembali ke yang lama, tapi kami melihat setahun ini, kami sudah berubah.

Anda bisa lihat di lapangan petugas di halte sudah berani menegur pelanggan. Petugas di bus juga sudah bisa mengekspresikan diri lebih baik untuk memberikan pelayanan yang lebih baik. Itu semua bantuk dari suatu langkah awal.

 

Harga tiket yang hanya Rp3.500 apakah berpengaruh dari sisi bisnis?

Saya berpikir begini, harga Rp3.500 itu pasti membantu perekonomian Jakarta juga. Kami tidak pernah mematok harga berapa pun karena sisanya kami mendapatkan subsidi dari Pemprov DKI. Harga ini sudah bertahan sejak 2005/2006 dan tidak pernah naik lagi.

Pesan Pemprov DKI jelas, yakni memberikan pelayanan sebanyak mungkin gratis kepada mereka yang harus dibantu. Jadi, ada 12 kelompok yang gratis naik Transjakarta yakni pengguna KJP, lansia, difable, pensiunan, TNI/Polri, dan penghuni rusun. Kami membuat kartu khusus untuk mereka asalkan mereka nasabah Bank DKI dan penerima bantuan kesejahteraan.

Hingga sejauh ini, kami sudah gratiskan 18.000 orang dari 470.000 pelanggan per hari dan angka ini akan meningkat terus. Konteksnya nanti harga meningkat, gratisnya juga makin banyak.

Untuk harga kami ikuti Pemprov. kami melihat harga tidak menjadi kendala. Harga saat ini sudah termasuk yang gratis tadi, kemudian Rp2.000 untuk yang naik sebelum pukul 05.00, net average-nya sebenarnya Rp3.200. Ada Rp300 yang disubsidi . Kalau ini dinaikkan dampaknya ke revenue juga tidak gede.

 

Dengan harga yang tetap, apakah pendapatan Transjakarta juga tetap?

Justru meningkat bersamaan dengan peningkatan pelanggan. Buat saya, operating expenditure (opex) tidak boleh lebih besar dari revenue. BoD punya target untuk menjaga opex. Kekurangannya disubsidi oleh PSO yang tahun ini Rp2,8 triliun tadi.

 

Apakah cukup ideal gaji sopir Transjakarta saat ini?

Saya setuju dengan Pak Ahok yang memutuskan gaji sopir single itu dua kali UMP. Gaji bus tingkat itu dua setengah kali atau hampir Rp8 juta, gaji yang articulated bus itu tiga kali UMP. Harga satu bus Transjakarta ini hampir Rp1,5 miliar. Seorang sopir yang mengendarai kendaraan Rp1,5 miliar, tentu kami juga harus menghargai itu.

Oleh karena itu, kami juga keras agar tidak sembarang orang diizinkan mengemudikan bus. Jika kemudian diam-diam ada mengemudikan tanpa izin, kami akan beri sanksi tegas, termasuk pemecatan. Bus gandeng kami itu harganya Rp4,5 miliar, kalau mereka dapat Rp9 juta per bulan itu wajar untuk menjaga aset Rp4,5 miliar ini.

 

Apa strategi mendorong masyarakat menengah atas antusias pakai transportasi publik?

Pertama, yang harus kami lakukan adalah jaringan. Hari ini kami bisa cover semua. Dari Pisangan Lama, misalnya, seorang keluar rumah bisa naik angkot yang langsung ke halte Transjakarta. Dalam waktu dekat, kami akan bekerja sama dengan angkot untuk bisa mengangkut gratis langsung ke Transjakarta.

Kami sudah berbicara sejak 6 bulan lalu. Rencananya, langsung 2.000 armada untuk tarik penumpang dari permukiman ke Transjakarta. Kami bekerja sama dengan angkutan kecil yang berasal dari permukiman. Dari depan rumah, tinggal tunjukkan kartu, naik gratis ke halte kami dan ketika naik bus baru bayar. Kami akan lakukan itu khususnya pada jam sibuk. Siangnya, angkot bisa beroperasi normal kembali.

Kedua, sterilisasi. Kami terus mengupayakannya. Koridor IV itu sudah full steril, bus bisa melaju dengan baik sehingga ada komitmen waktu dengan pelanggan. Dari Rawamangun atau Pulogadung ke Tosari bisa 30 menit. Ini belum semua koridor, baru koridor III dan IV. Kami sedang membenahi koridor VI. Koridor IX misalnya, kami berdampingan dengan jalan tol dan macetnya di pintu keluar tol.

 

Namun, masih banyak kemacetan akibat pembangunan. Apa antisipasinya?

Yang tidak bisa kita hindari adalah pembangunan infrastruktur di Jakarta. LRT sedang dibangun, beberapa fasilitas lain juga. Nah, kalau tidak steril kami tidak bisa memberikan komitmen kepada pelanggan. Namun, saya yakin dengan selesainya semua pembangunan, kami bisa kejar itu.

Kami juga sedang pelajari bus Transjakarta masuk ke tol dan keluar tol. Kemudian ada beberapa titik harus jalan di sebelah kiri tapi tidak bisa di sebelah kanan. Ini yang kami pelajari. Namun yang paling aman memang koridor XIII, karena letaknya di atas sehingga dari Cileduk ke Tendean hanya 30 menit. Dari Tendean bisa ke Harmoni, Cawang, Priok. Ini karena kami menggunakan pendekatan rute.

 

Bagaimana integrasi Transjakarta dengan moda transportasi lainnya?

Pertama, integrasi yang paling penting adalah Transjakara dengan Transjakara itu sendiri. Bagaimana feeder ini bisa mengangkut untuk masuk ke koridor. Kedua, kerja sama dengan PT KAI. Sehari kami bisa mengangkut 12.000 sampai 13.000 orang dari Tebet, belum lagi Palmerah, nanti geser ke Manggarai. Kami sudah punya halte, kemudian Kalibata. Kami juga siapkan dengan MRT, nanti ada lift langsung ke MRT.

 

Konsep kerja sama dengan angkot tadi kira-kira berapa biaya yang akan dikeluarkan Transjakarta?

Kami sedang hitung dengan LKPP. LKPP sedang menghitung berapa harga wajarnya. Saya yakin itu tidak begitu besar dibandingkan dengan total yang kami belanjakan setiap bulan. Kami akan coba. Saya yakin ini akan efektif. Memang itu hambatannya orang keluar rumah, dia akan milih naik angkot, ojek, atau yang lainnya.

Kalau dia naik angkot kemudian ke Transjakarta, harganya sama dan bisa ke mana saja. Daerah Kelapa Gading misalnya, mau ke koridor X di Sunter jauh, ke koridor II jauh, kerja sama dengan mikrolet itu akan sangat positif. Respons mereka sangat baik. Kami sudah bertemu dengan mereka.

Selai itu, kami juga punya bus tingkat untuk wisata.Kami punya 25 bus wisata yang bertingkat, 20 sumbangan dari swasta sehingga tidak beli. Kami hanya berkewajiban bayar sopir, bahan bakar, asuransi mobil b-to-b, barter dengan iklan.

Kemudian kami juga punya Transjakarta Care hari ini. Enam kendaraan untuk jemput difabel antar ke halte untuk menggunakan bus Transjakarta sekaligus bersosialisasi. Kemudian di tempat tujuan, kami akan jemput lagi mereka dan antar ke tujuan. Saat ini sudah 40 pelanggan . Kami optimistis bisa melayani lebih banyak orang lagi. Kami kembangkan Transjakarta Symphoni. Main musik di halte supaya lebih dekat ke pelanggan.

 

Moda transportasi sering menjadi alat kampanye, bagaimana respons Transjakarta?

Kami dari swasta komitmennya profesional, tidak mau masuk ke arena politik meskipun transportasi publik itu identik dengan politik. Oleh karena itu, kami menyiapkan tools, tak usah berat ke pilkada tapi pelayanan.

Cuma memang suka enggak suka, Pilkada harus dilihat juga dari apa yang sudah kami lakukan, yang tidak lepas dari rencana Pemprov membuka koridor XIII sehingga kami tinggal pakai, pembelian bus, kerja sama dengan SKPD yang ada. Apa yang kami lakukan itu tidak lepas dari program Pemprov DKI. Untuk isu politik, tergantung bagaimana masyarakat melihat. Transjakarta tidak memihak siapapun. Itu bisa saya pastikan.

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • Pengusaha Taksi Segeralah Berinovasi!

    Jum'at, 24 Maret 2017 - 15:07 WIB

    Konflik tansportasi eksisting dengan transportasi berbasis aplikasi hanya bisa diselesaikan dengan perbaikan perusahaan transportasi konvensional.

  • INSA Minta Izin Keagenan Ditinjau Ulang

    Jum'at, 24 Maret 2017 - 15:02 WIB

    Indonesia National Shipowners Association Jakarta Raya mempersoalkan penerbitan izin perusahaan keagenan kapal di Indonesia tanpa perlu memiliki armada angkutan laut.

  • Japek II Selatan Ditawarkan

    Jum'at, 24 Maret 2017 - 14:56 WIB

    Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menawarkan proyek tol JakartaCikampek II Selatan kepada para investor dalam forum bisnis Road Engineering Association of Asia and Australasia.

  • Inpex Diminta Mulai Kaji Kilang LNG

    Jum'at, 24 Maret 2017 - 14:51 WIB

    Pemerintah meminta Inpex Corporation sebagai operator Blok Masela agar segera melakukan kajian lanjutan dalam pembangunan kilang gas alam cair di darat

  • BLK Tidak Optimal

    Jum'at, 24 Maret 2017 - 14:47 WIB

    Balai latihan kerja di seluruh Indonesia memiliki kapasitas latih hingga 276.809 calon tenaga kerja per tahun, namun pemanfaatannya sejauh ini tidak lebih dari 10% karena terkendala persoalan keterbatasan anggaran dana.

Load More