Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017

Jangan Abaikan Bursa!

Nicky Hogan* Senin, 20/03/2017 07:54 WIB
Nicky Hogan, Direktur Pengembangan BEI

If you born poor it's not your mistake, but if you die poor it's your mistake...Anda mungkin pernah membaca kalimat Bill Gates di atas.

Rasanya jauh dari niatan orang terkaya di dunia itu untuk mengolok-olok orang-orang miskin atau orang-orang tak mampu.

Sebaliknya ungkapan Mr Mircrosoft itu justru menunjukkan niatnya untuk memotivasi siapapun di atas bumi ini agar senantiasa berusaha menjadi kaya, tak peduli seberapa miskin dia pada saat terlahir.

Tentu saja menjadi kaya dalam pengertian positif, bekerja keras, bekerja jujur dan bekerja pintar. Bukan dalam konteks negatif tentunya yang tak perlu disebutkan contoh-contohnya di sini.

Beberapa saat lalu terbit berita laporan Oxfam yang menyebutkan bahwa harta milik delapan orang terkaya di dunia, sebesar US$426 miliar, masih lebih besar dibanding harta separuh populasi dunia.

Sedangkan untuk Indonesia, kekayaan kolektif empat orang terkaya di negeri ini, sebesar US$25 miliar, sama dengan gabungan kekayaan 100 juta penduduk termiskin.

Laporan yang luar biasa mencengangkan untuk kita semua. Alih-alih hanya terheran-heran dan hanya mencari sisi negatif dan sisi gelap dari laporan tersebut, tampaknya banyak hal positif yang sebenarnya dapat kita petik dari sana.

Tidak ada yang salah dengan kedelapan orang dan keempat orang terkaya tersebut, malah seharusnya kita dapat belajar banyak atau bahkan menjadikan mereka panutan kita.

Mempelajari kehidupan dan karakter mereka, bagaimana mereka mampu memiliki kekayaan sedemikian besar, bagaimana mereka membangun dan menjalankan kerajaan bisnisnya, lengkap dengan jatuh bangunnya. Kita tahu, beberapa dari mereka bahkan memulai dari kondisi tanpa ada apa-apa, from zero to hero.

Sisi lain dari laporan itu yang tidak kalah menariknya, atau bahkan mungkin lebih menarik adalah kita, yang ada di seberang mereka, katakanlah kita ada di kelompok ‘si miskin’.

Kita mungkin terlahir dari keluarga miskin atau maksimal pas-pasan, dan selama ini kita bekerja, bekerja dan terus bekerja. Bekerja sedemikian keras, siapapun kita, pengusaha kecil, profesional, pegawai, buruh, tukang, supir, satpam, nelayan atau apapun pekerjaan kita, toh mungkin kita masih tetap saja ada di kelompok separuh populasi dunia atau kelompok 100 juta seperti disebut di atas. Tidakkah ada yang salah?

Pastinya ada yang salah. Mungkin selama ini kita terlalu ‘nyaman hanya bekerja’ dan kita melupakan begitu banyak kesempatan untuk menjadi kaya, atau paling tidak sekedar mendapatkan penghasilan lain di luar pekerjaan sehari-hari kita.

Bersifat konsumtif dan menghabiskan penghasilan setiap bulan, ataupun mencoba menyisihkan dana hanya dalam bentuk tabungan, padahal inflasi kenaikan harga dari tahun ke tahun terus menerus membebani hidup kita, menciutkan nilai harta kita dan terus pula menggerogoti tabungan kita.

 

Zona Nyaman

Hanya mengurung diri di zona nyaman, yang sesungguhnya tidak nyaman. Tanpa keinginan membuka mata dan hati. Tanpa keberanian mengambil risiko, sekalipun sebenarnya risiko itu sesuatu yang minim dan dapat kita kelola, bahkan dengan sangat mudah.

Dan saatnya nanti mungkin meninggal dunia tetap dalam keadaan ‘miskin’. Seperti kalimat yang disampaikan oleh orang terkaya dunia lainnya, sang investor pasar modal tersukses, Warren Buffet, "If you don't find a way to make money while you sleep, you will work (and probably poor - penulis) until you die."

Mari kita bicara investasi, produk pasar modal khususnya reksa dana, obligasi dan saham. Sumber penghasilan tambahan lain yang bisa membuat kita tidak menjadi terus miskin.

Selalu ada pertanyaan paling umum, bukankah membeli saham itu berisiko? Mari kita jawab pertanyaan tersebut dengan pertanyaan berikut. Apakah berisiko kalau kita adalah pemegang saham bank terbesar A atau kalau kita adalah salah seorang pemilik perusahaan telekomunikasi terbesar B atau kalau kita adalah owner perusahaan farmasi terbesar C?

Dimana kondisi yang menunjukkan high gain high risk yang sering diidentikkan dengan investasi saham? Lain ceritanya kalau kata investasi tadi diganti dengan kata spekulasi.

Rasanya kalau kita mau jujur dan terbuka, kita semua tahu jawaban sejatinya. Sebagai pemegang saham, ada pembagian keuntungan dalam bentuk dividen, plus potensi kenaikan nilai perusahaan kita, yang terefleksi dalam bentuk kenaikan harga saham, dari waktu ke waktu.

Celakanya selama ini kita terus mengabaikan investasi dan menutup diri dari investasi. Kita terus berpendapat bahwa hal terbaik justru adalah menghindari investasi. Kita terus membiarkan kekayaan (atau kemiskinan) kita dimakan inflasi, nilai uang kita terus menurun.

Tanpa berbuat apa-apa, dan tetap ada di kelompok seberang itu. Padahal "investing is the only game in town". Lihatlah kenaikan rata-rata harga saham yang ada di bursa efek kita, 193% dalam sepuluh tahun terakhir. Lebih dari cukup untuk mengungguli inflasi, bahkan lebih dari cukup untuk membuat kita sekedar menjadi kaya.

Tahun 2016 lalu, menurut catatan Bursa Efek Indonesia, dari kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sebesar 15,32%, menghasilkan keuntungan atau capital gain Rp148 triliun, plus dari total dividen sepanjang tahun sebesar Rp40 triliun dan bunga dari surat hutang atau obligasi, baik milik pemerintah maupun korporasi sebesar Rp27 triliun, dibayarkan kepada investor lokal, atau total tidak kurang Rp215 triliun dikontribusikan pasar modal kepada para investornya, menambah kekayaan para investornya.

Dan di sisi lain negeri ini masih terus menyimpan potensi sungguh luar biasa di masa yang akan datang. (Beberapa lembaga internasional memprediksi Indonesia akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar ke-5 di dunia pada tahun 2030 dan ke-4 di tahun 2050.

Menjadi investor pasar modal, saat ini, adalah sesuatu yang sangat mudah, sederhana dan murah. Perusahaan sekuritas dan manajer investasi dengan kantong-kantong pemasarannya yang tersebar luas, plus ada 250 galeri investasi di perguruan tinggi dari Aceh hingga Papua, dilengkapi akses tekhnologi informasi on line trading dan mobile trading yang mudah dan nyaman, dengan setoran awal memulai investasi yang hanya selembar pecahan mata uang terbesar kita.

Persis seperti nasehat Warren Buffet dan Bill Gates, tampaknya kalau kita ‘hanya bekerja saja’ dan akhirnya tetap ‘miskin’ pada saat kita tua nanti atau pada saat kita meninggal dunia nantinya, kita tahu persis siapa yang patut disalahkan.

 

*) Nicky Hogan, Direktur Pengembangan BEI 

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More