Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017

Menebak Arah BI Repo Rate

Haryo Kuncoro* Senin, 20/03/2017 07:43 WIB
Haryo Kuncoro, Direktur Riset the Socio-Economic & Educational Business Institute (SEEBI), Pengajar FE Universitas Negeri Jakarta, & Doktor Ilmu Ekonomi PPs-UGM Yogyakarta

Sesuai prediksi, Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuannya, 7-Day Reverse Repo Rate, pada level 4,75%. Keputusan ini merupakan yang ketiga kalinya secara berturut-turut pada awal 2017 atau telah bertahan selama  6 bulan sejak terakhir dipangkas September 2016.

Opsi BI mempertahankan Repo Rate bukannya tanpa perhitungan. Inflasi tahunan per Februari 2017 mencapai 3,83% yang aman dalam batas rentang sasaran. Sementara itu, inflasi bulanan hanya 0,23% lebih rendah dari Januari yang sebesar 0,97%. Artinya, laju inflasi masih berada dalam kendali penuh otoritas moneter.

Indikator makroekonomi lainnya relatif kondusif. Defisit transaksi berjalan menyusut hingga kurang dari 2% atas PDB yang melampaui perkiraan awal. Selain itu, surplus neraca perdagangan semakin besar sejalan dengan membaiknya harga ekspor komoditas primer dan menurunnya impor nonmigas.

Imbas dari tiga faktor fundamental di atas ialah stabilitas nilai tukar. Dalam 2 bulan pertama 2017, rupiah mengalami penguatan terdampak dari arus dana yang masuk (capital inflow) di pasar keuangan. Pada pertengahan Maret, posisi rupiah bergerak tipis di sekitar Rp 13.400 per US$1.

Berbekal pada kinerja tersebut, BI mengambil posisi (stance) ‘akomodatif dengan kehati-hatian’ di tengah lemahnya prospek pemulihan global. Dalam pandangan BI, posisi netral ini diyakini akan memperkuat permintaan kredit sehingga dapat terus mendorong momentum pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Dalam lingkup eksternal, keputusan tidak mengubah Repo rate bisa dibilang berani. Sehari sebelumnya, bank sentral AS sudah menaikkan 25 basis poin suku bunga acuannya, Fed Rate, menjadi 0,75%-1%.

Secara teoretis, suku bunga di negara berkembang cenderung mengikuti arah perubahan suku bunga negara lain, terutama negara yang kuat secara ekonomi. Bukti-bukti empiris pun mendukung tesis ini. Perbedaan suku bunga sedikit saja sudah cukup untuk membuat pemilik modal melarikan uangnya ke luar negeri.

Tampaknya, BI sudah bisa memetik pelajaran berharga dari pengalaman pada akhir 2015. Pada Desember 2015 saat Fed Rate dinaikkan, sebulan kemudian BI malah menurunkan suku bunga acuannya. Fakta yang terjadi saat itu, nilai tukar rupiah merosot dan cadangan devisa menyusut tajam.

Alhasil, kali ini pasar finansial agak lebih terkontrol. Kekhawatiran akan terjadi gejolak nilai tukar, indeks harga saham gabungan, dan aliran modal tidak terlalu kentara. Agaknya, pelaku pasar keuangan sudah siap betul menyambut kenaikan Fed Rate sehingga proses penyesuaian berlangsung smooth.

Kredit poinnya ialah kebijakan menahan suku bunga acuan ditempuh saat cadangan devisa cukup substansial. Cadangan devisa per Februari mencatatkan rekor setara 8,9 bulan impor atau 8,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Hanya saja, untuk beberapa bulan mendatang, ruang gerak bagi BI untuk tetap mempertahankan Repo Rate menjadi sangat terbatas. Pembatas pertama ialah kenaikan lanjutan Fed Rate. Janet Yellen, Gubernur Bank Sentral AS, sudah memberi aba-aba akan menaikkan Fed Rate dua sampai tiga kali sampai akhir tahun ini.

Kemungkinan Fed Rate paling cepat akan naik pada Juni. Tenggat 3 bulan diklaim cukup untuk mengantisipasi dampak ekonomi yang dipicu oleh kenaikan Fed Rate. Tanpa mitigasi sejak dini, ongkos yang harus dikeluarkan untuk menanggulangi tekanan depresiasi rupiah dan pelarian modal menjadi lebih mahal.

Dampaknya pun bisa lebih buruk dari sekarang lantaran tidak ada jaminan nanti pasar keuangan akan kembali tenang. BI tidak bisa lagi mengandalkan cadangan devisa atau pengaruh psikologis kepada pasar. Persoalan ini sudah menyangkut momentum untuk menjaga daya tarik Indonesia di mata investor.

Pembatas kedua adalah risiko terjadinya jebakan likuiditas (liquidity trap). Jerat likuiditas adalah kondisi saat pelaku pasar keuangan tidak sensitif lagi terhadap besaran Repo Rate. Konkretnya, ada limit tertentu di mana besaran Repo Rate tidak bisa ditoleransi pasar sehingga mau tidak mau harus dinaikkan.

Sebagai gambaran, angka inflasi hampir menyamai Repo Rate. Artinya, potensi inflasi untuk menyalip Repo Rate tetap terbuka. Kenaikan harga barang yang diatur pemerintah, seperti bahan bakar minyak, tarif listrik, dan gas serta beberapa komoditas pangan bergejolak sangat boleh jadi memantik inflasi keluar dari batas target.

Demikian pula, suku bunga acuan saat ini hanya selapis tipis di atas level credit default swap (CDS) 5 tahun (dengan mengambil probabilitas default yang paling rendah) sebesar 1,5% ditambah dengan outlook inflasi tahun ini yang sebesar 4%.

Besaran CDS dengan sendirinya akan naik sejalan dengan risiko global. Ketika batas terendah itu tersentuh, semua instrumen investasi portofolio menjadi tidak menarik lagi. Konsekuensinya, investor asing akan melikuidasi aset finansialnya.

Komplikasi antara jerat likuiditas dengan kenaikan Fed Rate niscaya mendorong pelarian modal seperti kekhawatiran mula-mula. Jika ini yang terjadi, surplus neraca perdagangan tidak cukup untuk menutup arus modal yang keluar. Isunya bermuara kembali kepada cadangan devisa dan nilai tukar.

Dalam skala yang lebih luas, strategi racikan BI dalam merespons potensi jerat likuiditas dan serial kenaikan Fed Rate nantinya akan berimbas pada posisi kebijakan moneter pada semester II. Pada akhirnya, arah kebijakan suku bunga acuan akan dicerna oleh pelaku pasar dalam membangun ekspektasi ke depan.

Alhasil, keberhasilan kebijakan suku bunga acuan tidak semata-mata hanya diukur dari mekanisme transmisinya terhadap suku bunga perbankan, penyaluran kredit produktif ke sektor riil, stabilitas sistem keuangan, dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kemampuannya untuk merawat konfidensi di bawah bayang-bayang potensi jerat likuiditas.

Bukan begitu BI?

 

*) Haryo Kuncoro, Direktur Riset the Socio-Economic & Educational Business Institute (SEEBI), Pengajar FE Universitas Negeri Jakarta, & Doktor Ilmu Ekonomi PPs-UGM Yogyakarta

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More