Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017
INVESTASI SEKTOR PERHOTELAN

Sulut Permudah Perizinan

Rivki Maulana Senin, 20/03/2017 08:45 WIB
ilustrasi

MANADO—Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara bakal mempermudah proses perizinan investasi di sektor perhotelan guna mendongkrak jumlah fasilitas akomodasi yang saat ini dinilai masih jauh dari memadai. 

Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey, mengatakan jumlah hotel di Bumi Nyiur Melambai perlu ditambah sejalan dengan tren pariwisata yang terus menanjak. Oleh karena itu, pihaknya berkomitmen memberikan kemudahan perizinan agar investor tertarik membenamkan modal.

"Siapapun silakan datang. Perizinan tidak akan rumit selama tidak merusak lingkungan. Ini komitmen kami bersama seluruh pemerintah daerah karena kami canangkan tahun ini adalah tahun investasi," jelas Olly di Manado, Sabtu (18/3).

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2015 jumlah kamar hotel berbintang di Sulut pada 2015 mencapai 29 hotel dengan kapasitas kamar mencapai 2.757. Adapun, jumlah kamar nonbintang mencapai 207 hotel dengan jumlah kamar 3.656. Sementara itu tingkat penghunian kamar atau okupansi kamar hotel di Sulawesi Utara juga tercatat di atas rata-rata nasional. Tahun lalu, tingkat okupansi berkisar 58,73% hingga 72,69%. Rata-rata tingkat okupansi sepanjang tahun mencapai 64,91%. 

Sejalan dengan kenaikan kunjungan wisatawan, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum pada 2016 juga ikut terkerek. Sektor ini tumbuh 12,65% dan menjadi salah satu dari tiga mesin pertumbuhan ekonomi Sulut yang tumbuh 6,17%.

Olly menuturkan, peluang investor untuk menanamkan modal di Sulawesi Utara kian terbuka karena saat ini pihaknya telah menerbitkan peraturan daerah mengenai zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. "Turis harus terus masuk. Jadi masih banyak kesempatan," tegasnya.

Dia menerangkan, kunjungan turis asing dalam dua bulan pertama 2017 sudah mencapai sekitar 30.000 pelancong. Jumlah tersebut setara 74% terhadap total turis asing yang berkunjung sepanjang 2016 sebanyak 40.624 wisatawan.

Menurut Olly, lonjakan kunjungan turis didorong oleh penerbangan carter langsung dari tujuh kota di China ke Manado. Dia menyebut jumlah penerbangan langsung ke Manado per hari diharapkan naik menjadi 5 penerbangan dengan estimasi penumpang seribu per hari. 

Di lain pihak, PT Gerbang Nusa Perkasa (GNP) juga telah memulai operasional Hotel Four Points by Sheraton. Direktur Utama GNP, Hengky Wijaya, mengatakan hotel tersebut saat ini menjadi yang termegah di Sulawesi Utara dengan kapasitas 257 kamar. "Turis asing banyak yang masuk dan kami bangun hotel ini untuk menambah fasilitas dan pilihan hotel bagi turis yang datang," ujarnya.

Dia menambahkan, perseroan menggelontorkan investasi hinga Rp250 miliar untuk membangun hotel seluas 24.700 m2 tersebut. Four Points by Sheraton juga menjadi pelengkap dari pusat perbelanjaan Manado Town Square, pusat perbelanjaan terluas di Manado yang memiliki luas sewa bersih 128.000 m2.

Dalam catatan Bisnis, sejumlah investor juga siap berinvestasi di sektor pariwisata. 

Dinas Penanaman Modal & Pelayanan Izin Terpadu Sulawesi Utara sudah memberikan izin prinsip kepada tiga investor yang akan membangun kawasan wisata.

Selain itu, Jingle Conch Intenational Hotel Ltd, perusahaan yang terafiliasi dengan pabrikan semen terbesar China, Anhui Conch Cement Company Ltd juga menyatakan minatnya membangun hotel di Sulut. Untuk diketahui, pada 2017 Sulut membidik investasi baru sebanyak Rp4 triliun atau sama dengan realisasi investasi baru pada tahun lalu. Realisasi investasi baru di Sulut pada 2016 melampaui target Rp2,5 triliun.

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More