Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017
EMITEN PROPERTI

Penjualan Masih Lesu

Emanuel B. Caesario Senin, 20/03/2017 07:27 WIB
Aktivitas pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Senin (6/3).

JAKARTA — Realisasi penjualan sejumlah emiten properti sepanjang 2 bulan pertama tahun ini masih lesu, meskipun besar harapan kinerja akan terus membaik di sisa tahun ini.

Ferdy Wan, analis Mandiri Sekuritas, menjelaskan bahwa selama 2 bulan pertama tahun ini rata-rata emiten properti membukukan marketing sales 10% dari target sepanjang 2017. (Lihat grafis)

Kinerja terbaik diperoleh PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA).

BSDE sudah berhasil memperoleh marketing sales Rp1,3 triliun, atau 18% dari target pada tahun ini Rp7,22 triliun, sementara CTRA memperoleh 9% dari target Rp8,5 triliun, atau senilai Rp800 miliar.

PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON) juga mencatat kinerja baik, yakni senilai Rp370 miliar, atau 14% dari target pada tahun ini Rp2,6 triliun.

Sementara itu, PT Alam Sutra Realty Tbk. (ASRI) dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mencatatkan kinerja terendah, masing-masing 4% dan 5% dari target.

Pada Februari 2017, sudah ada beberapa proyek baru yang diluncurkan, setelah pada bulan sebelumnya pasar tidak mendapat tambahan produk baru.

Meskipun terbatas, secara umum penjualan di segmen hunian relatif lebih baik dibandingkan dengan segmen komersial dan perkantoran.

Ferdy mengatakan, dua proyek residensial baru yang diluncurkan sepanjang Februari lalu dengan kinerja penjualan terbaik baik adalah Alegria BSD City dari BSDE dan Monteverde Citraland Cibubur dari CTRA. Kinerja penjualan yang baik ini didukung oleh harga yang relatif murah yang ditawarkan keduanya.

Seluruh unit Alegria terjual habis dengan nilai Rp300 miliar. BSDE juga mencatatkan realisasi penjualan besar dari lahan komersial kepada Mitsubishi, yaitu mencapai Rp840 miliar.

Cesar de la Cruz, Direktur Keuangan PT Agung Podomoro Land Tbk., mengatakan bahwa hingga akhir Februari 2017, realisasi marketing sales emiten berkode saham APLN ini baru mencapai Rp335 miliar.

Realisasi ini baru 9,6% dari target marketing sales sepanjang tahun ini senilai Rp3,5 triliun. “Kami masih perlu upaya keras untuk mencapai target 2017 ini,” katanya pada Bisnis belum lama ini.

Cesar mengatakan, sejauh ini perseroan belum memiliki rencana untuk menambah proyek baru yang akan diluncurkan tahun ini, menimbang situasi pasar properti yang belum cukup kondusif. Seluruh target marketing sales akan dikontribusikan oleh proyek-proyek yang sudah berjalan sejak tahun lalu.

Beberapa proyek tersebut misalnya superblok Podomoro Golf View (PGV) di Cimanggis, Depok, Jawa Barat; Podomoro City Deli Medan (PCDM), Medan, Sumatra Utara; dan SCBD Borneo Bay City, Balikpapan, Kalimantan Timur.

APLN memilih lebih banyak menyasar pasar menengah ke bawah atau dari kalangan pengguna akhir, menimbang tren permintaan tertinggi selama 2 tahun belakangan ada di segmen tersebut.

Proyek PGV dipasarkan dengan rentang harga Rp198 juta hingga Rp470 juta per unit, SCBD Borneo Bay City dipasarkan mulai dari Rp900 juta per unit, dan PCDM dipasarkan mulai Rp600 juta.

PROPERTI INVESTASI

Di sisi lain, aktivitas pembelian properti untuk kepentingan investasi masih minim karena pertumbuhan ekonomi yang melambat. Belanja properti di segmen atas pun terbatas karena terbebani pajak barang mewah yang cukup tinggi.

Indaryanto, Direktur Keuangan PT PP Properti Tbk., optismistis pada tahun ini kinerja properti membaik. Meski begitu, Indaryanto mengaku sejauh ini belum membukukan penjualan yang siginifikan, bahkan sedikit lebih rendah dari capaian periode yang sama tahun lalu.

“Realisasi marketing sales sampai dengan Februari baru Rp245 miliar. Dibandingkan tahun lalu, nilai itu setara 95%,” katanya.

Pada tahun ini, emiten berkode saham PPRO ini menargetkan marketing sales senilai Rp3,5 triliun, atau naik 45,8% secara tahunan. Artinya, realisasi dua bulan pertama tahun ini baru mencapai 7% dari target.

Dalam waktu dekat, PPRO sudah berencana untuk meluncurkan sejumlah proyek baru yang diharapkan akan lebih mendorong kinerja. Perseroan akan meluncurkan dua proyek di Surabaya, yakni Menara I Grand Shamaya dan Menara I di Wiyung.

Selain itu, perseroan juga akan memperkenalkan Menara I Tlogo Mas, Malang; Menara II  D’Alton Semarang; serta Menara I di Jababeka, Cikarang hasil kerja sama dengan PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. (KIJA).

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More