Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017
KREDIT PERBANKAN SUMBAR

Pertanian Mulai Diprioritaskan

Heri Faisal Senin, 20/03/2017 08:37 WIB
Petani memanen jagung.

PADANG — Perbankan mulai memprioritaskan penyaluran kredit ke sektor pertanian di Sumatra Barat, menyusul kian pulihnya harga komoditas di tingkat petani, terutama sawit dan karet.

Direktur Utama PT BPR LPN Sungai Rumbai Parman menyebutkan, lebih dari 80% penyaluran kredit perseroan diberikan ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di bidang pertanian dan perdagangan.

“Khususnya pertanian karena memang harga-harga sudah mulai membaik. Harapan kami harga komoditas ini bisa bertahan,” katanya, Minggu (19/3).

Penyaluran kredit ke sektor pertanian juga menjadi prioritas PT BPD Sumbar alias Bank Nagari. Bank milik Pemprov Sumbar itu mengalokasikan Rp300 miliar melalui skema kredit usaha rakyat (KUR) yang akan disalurkan ke sektor pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan.

“ terutama lewat KUR, kalau kurang kami akan ajukan lagi ke pemerintah. Juga lewat program lainnya bekerjasama dengan pemda,” kata Hendri, Direktur Kredit dan Syariah Bank Nagari.

Menurutnya, sektor pertanian yang menjadi salah satu penopang perekonomian Sumbar merupakan prioritas penyaluran kredit perseroan, selain kredit UMKM ke sektor perdagangan dan jasa.

Dia meyakini, mulai membaiknya harga komoditas pertanian akan meningkatkan penyaluran pembiayaan ke sektor itu. Apalagi, dari sisi produksi sebesar 24% pembentukan ekonomi Sumbar berasal dari sektor pertanian.

Nasabah Petani

Parman yang juga menjabat Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat (Perbarindo) Sumbar menyebutkan, sebagian besar nasabah BPR di Sumbar adalah petani, terutama petani sawit, karet, dan pertanian tanaman pangan yang bergantung pada pergerakan harga komoditas.

Parman mengungkapkan, sepanjang tahun lalu BPR setempat mengalami tekanan karena rendahnya harga komoditas pertanian, yang menyebabkan banyaknya debitur dari kalangan petani tidak mampu mengembalikan pinjamannya.

“Sebab pembiayaan BPR memang kepada petani kecil di pedesaan. Kalau harga anjlok, mereka tidak mampu mengembalikan pinjaman,” katanya.

Oleh karena itu, dengan mulai pulihnya harga komoditas pertanian, dia meyakini kinerja keseluruhan BPR di Sumbar dapat ikut terdongkrak. Targetnya, penyaluran kredit BPR Sumbar tahun ini di kisaran 12% –15%.

Sepanjang 2016, penyaluran kredit BPR di daerah itu hanya tumbuh 8,89% menjadi Rp1,25 triliun, dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp1,15 triliun. Sementara itu, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) mencapai 11,89% dari Rp1,24 triliun menjadi Rp1,39 triliun.

Secara keseluruhan, aset sebanyak 98 unit BPR di Sumbar mengalami pertumbuhan 7,81% dari Rp1,62 triliun menjadi Rp1,75 triliun.

Data Bank Indonesia mencatatkan, penyaluran kredit ke sektor pertanian mengalami perlambatan 5,3% pada kuartal IV 2016, jauh lebih rendah dari pertumbuhan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 15,3%.

Total penyaluran kredit ke sektor pertanian baru berkisar Rp4,76 triliun, dengan porsi sektor itu terhadap total penyaluran kredit di Sumbar mencapai 17%.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong perbankan setempat meningkatkan penyaluran kredit ke UMKM di bidang pertanian dan perdagangan guna menstimulus pertumbuhan ekonomi daerah.

“Meskipun NPL-nya cukup tinggi, kami minta bank tetap prioritaskan, tentu dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian,” kata Indra Yuheri, Kepala OJK Perwakilan Sumbar.

Secara keseluruhan, kucuran kredit UMKM di Sumbar pada tahun lalu terbilang stagnan, atau hanya tumbuh 2,86% menjadi Rp14,03 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp13,64 triliun. 

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More