Navigasi Bisnis Terpercaya

Jum'at 24 Maret 2017
KREDIT PEMILIKAN RUMAH

Trik agar Cicilan Ringan

Surya Rianto Senin, 20/03/2017 08:49 WIB
Penyelesaian sebuah perumahan mewah.

Suku bunga kredit di Indonesia dinilai masih terlalu tinggi. Salah satunya segmen konsumsi, khususnya kredit pemilikan rumah, yang menjadi beban debitur.

Kendati bank banyak menawarkan fix rate atau bunga tetap, saat masa promo tersebut habis, debitur akan menanggung beban lebih tinggi karena diberlakukan bunga floating atau mengikuti rata-rata pasar.

Terlebih lagi, jika kondisi perekonomian, baik global maupun domestik, menghadapi berbagai tantangan, akhirnya mempengaruhi kemampuan daya debitur untuk mengangsur rumah, baik rumah tapak maupun susun.

Untuk permintaan kredit pemilikan rumah (KPR) sepanjang 2016, dari sisi kredit rumah tapak masih mencatatkan kenaikan 8,37% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya menjadi Rp353,64 triliun. Kemudian, untuk KPR rumah susun mengalami penurunan 0,72% menjadi Rp12,92 triliun.

Permintaan KPR sepanjang tahun lalu memang bisa dibilang tidak terlalu moncer jika dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya. Pada 2014, pertumbuhan KPR rumah tapak naik sebesar 12,7%, sedangkan rumah susun meningkat 10,08%.

Tren penurunan KPR mulai terlihat pada 2015. Kala itu, pertumbuhan KPR rumah tapak melambat menjadi 7,72%, sedangkan KPR rumah susun turun menjadi 1,65%.

Di tengah kondisi itu, beberapa bank pun memiliki produk hybrid antara KPR dengan tabungan. Dengan produk itu, nasabah bisa mengatur seberapa cepat mereka bisa melunasi cicilannya karena tingkat bunga kredit akan bergantung kepada jumlah nominal tabungan dalam rekening produk hybrid tersebut.

PT Bank OCBC NISP Tbk. menjadi salah satu bank yang memiliki produk hybrid itu, yang bernama KPR Kendali.

Secured Loan Division Head Bank OCBC NISP Veronika Susanti mengatakan, permintaan nasabah untuk menggunakan produk KPR Kendali pada tahun lalu cukup baik. KPR Kendali ditargetkan berkontribusi sekitar 20% dari total KPR perseroan.

“Realisasinya, KPR Kendali berkontribusi sebanyak 35% dari total KPR. Segmen nasabah yang berminat pun dari golongan menengah ke atas,” ujarnya kepada Bisnis pada Jumat (17/3).

Pada tahun ini, produk KPR Kendali perseroan diharapkan berkontribusi sebesar 50% dari total KPR.

Veronika menjelaskan, nasabah merespons cukup baik terkait dengan keberadaan produk hybrid tersebut. Pasalnya, nasabah bisa menentukan sendiri tingkat bunga sesuai dengan nominal tabungan yang ditempatkan dalam rekening KPR Kendali tersebut. Jika, ingin semakin cepat menyelesaikan tabungan tinggal meningkatkan saldo tabungannya.

“Untuk kami, saldo tabungan dalam rekening KPR Kendali pun naik 600% dibandingkan dengan rekening tabungan reguler,” jelasnya.

PRODUK UNGGULAN

Bukan hanya bank dengan kode emiten NISP itu saja yang memiliki produk dengan mekanisme tersebut, PT Bank Permata Tbk. pun juga memiliki produk serupa dengan nama PermataKPR Bijak.

Direktur Bank Permata Bianto Surodjo menuturkan, produk PermataKPR Bijak itu dijajakan dalam bentuk konvensional maupun syariah, dan menjadi salah satu unggulan perseroan. Permintaan produk bank dengan kode emiten BNLI itu melonjak 60% pada semester II/2016.

“Nasabah yang menggunakan produk itu mencakup semua segmen, tetapi cenderung kepada mereka yang sudah paham dengan pengelolaan keuangan,” tuturnya.

Selain itu, PT Bank CIMB Niaga Tbk. memiliki produk serupa yang bernama KPR Xtra Manfaat.

Direktur Konsumer Bank CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, untuk perkembangan produk perseroan itu sepanjang tahun lalu mencatatkan kenaikan, meskipun tidak mencatatkan komposisi penjualan tertinggi.

“Segmen nasabah yang mencicipi produk itu pun rata-rata dari nasabah prima, yaitu segmen preferred customer yang cenderung menengah ke atas,” ujarnya.

Lani menuturkan, produk itu memang cenderung diminati oleh segmen menengah ke atas karena secara rasional lebih memiliki dana simpanan yang relatif tinggi untuk mengurangi bunga KPR.

PORSI TABUNGAN

Dari produk serupa ketiga bank itu, perbedaannya hanya dari sisi porsi tabungan yang dijadikan perhitungan untuk pengurangan pokok pinjaman dalam perhitungan bunga KPR.

Bank CIMB Niaga dan Bank OCBC NISP sama-sama mematok sebesar 80% dari rekening tabungan yang dijadikan perhitungan pengurangan beban.

Adapun Bank Permata mematok sebesar 75% dari total tabungan yang diperhitungkan sebagai pengurangan beban. Berdasarkan penjelasan di situs mereka, ketiga produk bank itu memiliki kemiripan, yakni dana tabungan fleksibel atau tidak perlu ditahan lama di rekening simpanan.

Nah, jika memiliki simpanan atau dana lebih, Anda bisa mengendapkan duit tersebut untuk membantu mengurangi beban cicilan kredit rumah. Selain itu, produk hybrid ini bisa menjadi alternatif investasi Anda.

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • Pengusaha Taksi Segeralah Berinovasi!

    Jum'at, 24 Maret 2017 - 15:07 WIB

    Konflik tansportasi eksisting dengan transportasi berbasis aplikasi hanya bisa diselesaikan dengan perbaikan perusahaan transportasi konvensional.

  • INSA Minta Izin Keagenan Ditinjau Ulang

    Jum'at, 24 Maret 2017 - 15:02 WIB

    Indonesia National Shipowners Association Jakarta Raya mempersoalkan penerbitan izin perusahaan keagenan kapal di Indonesia tanpa perlu memiliki armada angkutan laut.

  • Japek II Selatan Ditawarkan

    Jum'at, 24 Maret 2017 - 14:56 WIB

    Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menawarkan proyek tol JakartaCikampek II Selatan kepada para investor dalam forum bisnis Road Engineering Association of Asia and Australasia.

  • Inpex Diminta Mulai Kaji Kilang LNG

    Jum'at, 24 Maret 2017 - 14:51 WIB

    Pemerintah meminta Inpex Corporation sebagai operator Blok Masela agar segera melakukan kajian lanjutan dalam pembangunan kilang gas alam cair di darat

  • BLK Tidak Optimal

    Jum'at, 24 Maret 2017 - 14:47 WIB

    Balai latihan kerja di seluruh Indonesia memiliki kapasitas latih hingga 276.809 calon tenaga kerja per tahun, namun pemanfaatannya sejauh ini tidak lebih dari 10% karena terkendala persoalan keterbatasan anggaran dana.

Load More