Navigasi Bisnis Terpercaya

Jum'at 24 Maret 2017
PENJUALAN KOSMETIK

Menyasar Generasi Millennial

Nurhadi Pratomo Senin, 20/03/2017 08:45 WIB

Generasi millennial dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah dinilai mampu menjadi pendongkrak penjualan industri kosmetik nasional. Hal itu disebabkan tingginya pangsa
pasar segmen itu di beberapa kota Tanah Air. Hasil tes yang dilakukan Snap cart se panjang tahun 2016 ter hadap 2.442 data belanja konsumen wanita millennial di Indonesia. Penelitian ter sebut dilakukan dengan res ponden yang berada pada rentang umur 25—34 tahun.

Data tersebut kemudian  di bagi menjadi dua kategori yakni kota besar dan kota lain nya. Adapun yang masuk dalam kategori kota  besar adalah Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, dan Makassar sedangkan sisanya ma suk ke dalam kategori kota lain. Riset tersebut me nunjukkan pangsa penjualan kosmetik di kota besar masih didominasi oleh kelompok socio economic status (SES) A dan B. Kelompok tersebut menguasai penjualan lebih dari 70%. Untuk SES B dan C jumlah pangsa penjualan pada 2016 tak mencapai angka 30%.

Dengan demikian, kon sumen kosmetik di kota besar sebagian besar berasal dari kalangan menengah ke atas . Kondisi sebaliknya justru terjadi di beberapa kota lain. Pangsa pasar penjualan untuk kategori tersebut lebih banyak dikuasai tingkat ekonomi C dan D dengan pangsa pasar lebih dari 60%. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa
konsumen yang berasal dari tingkat ekonomi C dan D menjadi pendorong penjualan kosmetik di  beberapa kota Tanah Air.

Dengan demikian, masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah dapat menjadi target  penjualan kosmetik untuk segmen konsumen wanita millennial.
CEO Snapcart Reynazran Royono menilai bonus demografi yang terjadi di Tanah Air dapat  memengaruhi permintaan kosmetik. Menurutnya, hal tersebut ditambah adanya tren perempuan yang menjadi wanita karier.

“Kami memprediksi pertumbuhan konsumsi kosmetik masih terus terjadi pada masa-masa mendatang,” kata Reynazran  kepada Bisnis akhir pekan kemarin. Dia menambahkan dengan adanya bonus demografi menjadi momentum bagi produsen kosmetik lokal untuk berinovasi  dan mengembangkan produknya. Tujuannya, agar mereka dapat bersaing
dengan produsen kosmetik internasional.

DOMESTIK TERHIMPIT
Ketua Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi (PPA) Kosmetika Indonesia Putri Kuswisnu Wardani mengungkapkan kondisi  yang sama dengan tahun lalu masih menimpa
penjualan kosmetik dalam negeri. “Hingga Maret 2017  penjualan produk kosmetik masih stagnan,” ujar Putri. Dia mengungkapkan belum bergairahnya penjualan kosmetik di
dalam negeri akibat adanya instabilitas politik dalam beberapa bulan terakhir.

Akibatnya, perdagangan baik di tingkat industri maupun ritel belum berjalan dengan baik. Di sisi lain, faktor terhambatnya pertumbuhan  penjualan kosmetik nasional menurutnya akibat serbuan produk impor ilegal. Dia menilai aturan impor bagi produk kecantikan untuk masuk ke Indonesia sangat  longgar. “Kosmetika menjadi satu-satunya sektor yang kewajiban verifi kasinya ditiadakan,” ujar Putri.

Akibatnya, sambung dia, ruang gerak produsen kosmetika dalam negeri menjadi semakin terhimpit. Pasalnya kebanyakan importir tersebut  memasarkan produk mereka
di kota besar. Untuk pemasaran sampai ke pelosok daerah, Putri mengungkapkan diperlukan modal yang cukup besar.  Dengan demikian, saat ini lebih banyak dikuasai oleh
perusahaan penanaman modal asing.

“Ini perlu diwaspadai karena di kota besar kami harus bersaing dengan kosmetik impor termasuk barang ilegal,” imbuh dia. Putri meyakini kondisi
perdagangan akan kembali lancar usai putaran ke-2 Pilkada DKI Jakarta Selesai. Namun, dia tak menyebut berapa target penjualan yang dipasang oleh para pelaku industri kosmetik nasional 

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • Pengusaha Taksi Segeralah Berinovasi!

    Jum'at, 24 Maret 2017 - 15:07 WIB

    Konflik tansportasi eksisting dengan transportasi berbasis aplikasi hanya bisa diselesaikan dengan perbaikan perusahaan transportasi konvensional.

  • INSA Minta Izin Keagenan Ditinjau Ulang

    Jum'at, 24 Maret 2017 - 15:02 WIB

    Indonesia National Shipowners Association Jakarta Raya mempersoalkan penerbitan izin perusahaan keagenan kapal di Indonesia tanpa perlu memiliki armada angkutan laut.

  • Japek II Selatan Ditawarkan

    Jum'at, 24 Maret 2017 - 14:56 WIB

    Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menawarkan proyek tol JakartaCikampek II Selatan kepada para investor dalam forum bisnis Road Engineering Association of Asia and Australasia.

  • Inpex Diminta Mulai Kaji Kilang LNG

    Jum'at, 24 Maret 2017 - 14:51 WIB

    Pemerintah meminta Inpex Corporation sebagai operator Blok Masela agar segera melakukan kajian lanjutan dalam pembangunan kilang gas alam cair di darat

  • BLK Tidak Optimal

    Jum'at, 24 Maret 2017 - 14:47 WIB

    Balai latihan kerja di seluruh Indonesia memiliki kapasitas latih hingga 276.809 calon tenaga kerja per tahun, namun pemanfaatannya sejauh ini tidak lebih dari 10% karena terkendala persoalan keterbatasan anggaran dana.

Load More