Navigasi Bisnis Terpercaya

Jum'at 24 Maret 2017
EFEK THE FED

Bisnis Properti Tetap Melaju

Anitana Widya Puspa Senin, 20/03/2017 08:49 WIB
Bangunan hunian vertikal berdiri di antara kawasan padat penduduk di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (11/3).

JAKARTA — Sejumlah pihak menilai keputusan bank sentral AS atau The Fed menaikkan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin tak akan menghambat pemulihan yang tengah berlangsung di sektor properti tahun ini. Direktur Ciputra Group Harun Hajadi mengatakan, kenaikan suku bunga the Fed belum dibarengi dengan peningkatan suku bunga di Indonesia sehingga tidak berdampak terhadap sektor properti di Tanah Air.

Bank Indonesia memutuskan tetap mempertahankan suku bunga acuan 7 Days Repo Rate (7-DRR) pada level 4,75%. “Akan tetapi, kalau di Indonesia  uku bunga itu akan naik, pengaruhnya ke sektor properti akan terlihat karena kenaikan suku bunga adalah salah satu musuh industri properti,” katanya kepada Bisnis, Minggu (19/3)

Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) Panangian Simanungkalit mengatakan, kendati peningkatan suku bunga the Fed diprediksikan  masih terjadi dua hingga tiga kali lagi dalam setahun ini, hal itu tak akan terlalu berpengaruh banyak terhadap sektor properti nasional. Kondisi itu dikarenakan saat ini  per bankan di Indonesia tak akan
mengalami kesulitan likuiditas dari melimpahnya dana instrumen pengampunan pajak.

Belum lagi siklus properti yang tengah rehat selama 2 tahun terakhir ini bersiap untuk naik kembali (rebound). Dia menilai, saat ini rata-rata perbankan nasional telah mengambil
langkah kebijakan untuk mengikuti siklus pertumbuhan properti sehingga tak akan banyak terpengaruh pada kebijakan Bank Indonesia yang hanya  bersifat mengamankan.
Sektor properti, lanjutnya, masih menjadi sasaran empuk bagi perbankan untuk menyalurkan kredit mereka dengan porsi kredit macet yang mulai berkurang.

Konsumen pasar properti juga dianggap sebagai konsumen yang loyal dibandingkan dengan sektor lain dengan jangka waktu angsuran puluhan tahun.

JORJORAN
Panangian menuturkan, saat ini perbankan mulai jorjoran dalam melakukan berbagai promosi suku bunga rendah tetap selama 2 tahun dan berbagai bentuk promosi lainnya. Kondisi itu diikuti dengan optimisme dari konsumen yang mengajukan kredit perbankan untuk kredit pemilikan (KPR) rumah mengalami peningkatan. Perbankan telah memproyeksikan peningkatan permintaan terhadap kredit umum mampu tumbuh dua digit. Oleh karena itu, permintaan kredit properti tahun ini pun diprediksikan mencapai 12 % dengan kecenderungan bisa melampaui pertumbuhan kredit umum perbankan.

“Ini sinyal bisnis, tentunya bagi perbankan tidak ada rencana menarik dari rencana bisnisnya hanya karena kenaikan tipis suku bunga the Fed,” ujarnya. General Manager Proyek Grand Depok City Tony Hartono belumme lihat pengaruh kenaikan suku bunga the Fed dalam jangka waktu panjang. Menurutnya, pertumbuhan industri properti tahun ini akan lebih banyak dipengaruhi oleh kebijakan lokal antara tiap-tiap pengembang dan perbankan yang digandeng dalam berstrategi.

 

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • Pengusaha Taksi Segeralah Berinovasi!

    Jum'at, 24 Maret 2017 - 15:07 WIB

    Konflik tansportasi eksisting dengan transportasi berbasis aplikasi hanya bisa diselesaikan dengan perbaikan perusahaan transportasi konvensional.

  • INSA Minta Izin Keagenan Ditinjau Ulang

    Jum'at, 24 Maret 2017 - 15:02 WIB

    Indonesia National Shipowners Association Jakarta Raya mempersoalkan penerbitan izin perusahaan keagenan kapal di Indonesia tanpa perlu memiliki armada angkutan laut.

  • Japek II Selatan Ditawarkan

    Jum'at, 24 Maret 2017 - 14:56 WIB

    Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menawarkan proyek tol JakartaCikampek II Selatan kepada para investor dalam forum bisnis Road Engineering Association of Asia and Australasia.

  • Inpex Diminta Mulai Kaji Kilang LNG

    Jum'at, 24 Maret 2017 - 14:51 WIB

    Pemerintah meminta Inpex Corporation sebagai operator Blok Masela agar segera melakukan kajian lanjutan dalam pembangunan kilang gas alam cair di darat

  • BLK Tidak Optimal

    Jum'at, 24 Maret 2017 - 14:47 WIB

    Balai latihan kerja di seluruh Indonesia memiliki kapasitas latih hingga 276.809 calon tenaga kerja per tahun, namun pemanfaatannya sejauh ini tidak lebih dari 10% karena terkendala persoalan keterbatasan anggaran dana.

Load More