Navigasi Bisnis Terpercaya

Kamis 30 Maret 2017
EFEK THE FED

Bisnis Properti Tetap Melaju

Anitana Widya Puspa Senin, 20/03/2017 08:49 WIB
Bangunan hunian vertikal berdiri di antara kawasan padat penduduk di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (11/3).

JAKARTA — Sejumlah pihak menilai keputusan bank sentral AS atau The Fed menaikkan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin tak akan menghambat pemulihan yang tengah berlangsung di sektor properti tahun ini. Direktur Ciputra Group Harun Hajadi mengatakan, kenaikan suku bunga the Fed belum dibarengi dengan peningkatan suku bunga di Indonesia sehingga tidak berdampak terhadap sektor properti di Tanah Air.

Bank Indonesia memutuskan tetap mempertahankan suku bunga acuan 7 Days Repo Rate (7-DRR) pada level 4,75%. “Akan tetapi, kalau di Indonesia  uku bunga itu akan naik, pengaruhnya ke sektor properti akan terlihat karena kenaikan suku bunga adalah salah satu musuh industri properti,” katanya kepada Bisnis, Minggu (19/3)

Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) Panangian Simanungkalit mengatakan, kendati peningkatan suku bunga the Fed diprediksikan  masih terjadi dua hingga tiga kali lagi dalam setahun ini, hal itu tak akan terlalu berpengaruh banyak terhadap sektor properti nasional. Kondisi itu dikarenakan saat ini  per bankan di Indonesia tak akan
mengalami kesulitan likuiditas dari melimpahnya dana instrumen pengampunan pajak.

Belum lagi siklus properti yang tengah rehat selama 2 tahun terakhir ini bersiap untuk naik kembali (rebound). Dia menilai, saat ini rata-rata perbankan nasional telah mengambil
langkah kebijakan untuk mengikuti siklus pertumbuhan properti sehingga tak akan banyak terpengaruh pada kebijakan Bank Indonesia yang hanya  bersifat mengamankan.
Sektor properti, lanjutnya, masih menjadi sasaran empuk bagi perbankan untuk menyalurkan kredit mereka dengan porsi kredit macet yang mulai berkurang.

Konsumen pasar properti juga dianggap sebagai konsumen yang loyal dibandingkan dengan sektor lain dengan jangka waktu angsuran puluhan tahun.

JORJORAN
Panangian menuturkan, saat ini perbankan mulai jorjoran dalam melakukan berbagai promosi suku bunga rendah tetap selama 2 tahun dan berbagai bentuk promosi lainnya. Kondisi itu diikuti dengan optimisme dari konsumen yang mengajukan kredit perbankan untuk kredit pemilikan (KPR) rumah mengalami peningkatan. Perbankan telah memproyeksikan peningkatan permintaan terhadap kredit umum mampu tumbuh dua digit. Oleh karena itu, permintaan kredit properti tahun ini pun diprediksikan mencapai 12 % dengan kecenderungan bisa melampaui pertumbuhan kredit umum perbankan.

“Ini sinyal bisnis, tentunya bagi perbankan tidak ada rencana menarik dari rencana bisnisnya hanya karena kenaikan tipis suku bunga the Fed,” ujarnya. General Manager Proyek Grand Depok City Tony Hartono belumme lihat pengaruh kenaikan suku bunga the Fed dalam jangka waktu panjang. Menurutnya, pertumbuhan industri properti tahun ini akan lebih banyak dipengaruhi oleh kebijakan lokal antara tiap-tiap pengembang dan perbankan yang digandeng dalam berstrategi.

 

More From Makro Ekonomi

  • Ambisi Tito Lampaui Aset Perbankan

    13:34 WIB

    "Hidup itu harus ada target. Setelah tembus Rp6.000 triliun, kami harap market cap bisa melampaui aset perbankan," ucap Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio, Kamis (23/3).

  • PPRO Garap Kertajati

    13:28 WIB

    PT PP Properti Tbk. melalui kerja sama dengan PT BIJB Aerocity Development akan mengembangkan kawasan bisnis seluas 300 hektare di kawasan Bandar Udara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat

  • Bisnis Indonesia Edisi Cetak Senin, 27 Maret 2017 Seksi Market

    01:48 WIB

    Berikut ini adalah ringkasan headlines BISNIS INDONESIA edisi cetak Senin, 27 Maret 2017. Untuk menyimak lebih lanjut, silahkan kunjungi http://epaper.bisnis.com/

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

News Feed

  • Gubernur BI Siap Bersaksi

    Rabu, 29 Maret 2017 - 16:42 WIB

    Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardoo dijadwalkan hadir dalam persidangan kasus korupsi pengadaan KTP elektronik, Kamis (30/3), dalam kapasitasnya sebagai saksi terhadap terdakwa Irman dan Sugoharto, mantan pejabat Kementerian Dalam Negeri.

  • Asia Paper Diberi Tenggat 45 Hari

    Rabu, 29 Maret 2017 - 14:05 WIB

    Masa penundaan kewajiban pembayaran utang PT Asia Paper Mills akhirnya disepakati selama 45 hari, jauh dari harapan perseroan selaku debitur, yang mengajukan perpanjangan waktu 180 hari.

  • RI Bersiap Hadapi AS

    Rabu, 29 Maret 2017 - 12:11 WIB

    Indonesia bersiap menghadapi tudingan dumping dan subsidi dari Amerika Serikat atas produk biodiesel Tanah Air, setelah sebelumnya Uni Eropa menyampaikan tuduhan serupa

  • “Koperasi Bisa Menjadi Kekuatan Dahsyat”

    Rabu, 29 Maret 2017 - 11:52 WIB

    Pemerintah sejak awal sepakat menjadikan koperasi dan usaha kecil menengah (UKM) sebagai salah satu tulang punggung pertumbuhan ekonomi, dan berupaya terus menumbuhkan pelaku usahanya dengan berbagai kebijakan. Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, Menteri Koperasi dan UKM menjelaskan upaya yang selama ini dilakukan pemerintah untuk koperasi dan UKM. Berikut ini petikan wawancaranya.

  • KKP Bidik Pemilik Kapal Jumbo

    Rabu, 29 Maret 2017 - 10:02 WIB

    Kementerian Kelautan dan Perikanan membidik perusahaan-perusahaan yang menjadi pemilik 16.000 kapal perikanan di atas 30 gros ton lulus sertifikasi hak asasi manusia sebagai parameter penilaian perpanjangan izin usaha.

Load More